Manchester United secara resmi memecat pelatih kepala Ruben Amorim, mengakhiri masa kerjanya yang penuh gejolak akibat konflik internal, ketegangan taktik, dan meningkatnya frustrasi dari kedua belah pihak. Keputusan tersebut disampaikan kepada pelatih asal Portugal itu pada Senin pagi di pusat latihan Carrington oleh direktur olahraga Jason Wilcox dan CEO Omar Berrada.
Menurut sejumlah sumber terpercaya di Inggris, termasuk David Ornstein, pemecatan ini merupakan hasil dari memburuknya hubungan antara Amorim dan jajaran manajemen klub. Manchester United tidak berencana menunjuk pelatih permanen di tengah musim, dengan Darren Fletcher ditunjuk sebagai pelatih interim hingga pencarian pelatih baru dilanjutkan pada musim panas.
Bagaimana Situasi Memburuk di Balik Layar
Ketegangan seputar Amorim sebenarnya telah berlangsung selama beberapa pekan, namun memuncak setelah konferensi pers emosional usai hasil imbang 1–1 melawan Leeds United. Ketika ditanya soal masa depannya, Amorim memberikan jawaban yang tidak biasa dan bernada menantang, menegaskan bahwa dirinya melihat peran sebagai manajer dengan kewenangan luas, bukan sekadar pelatih.
Ia secara terbuka mengkritik proses internal klub, menegaskan bahwa semua departemen harus “melakukan tugasnya masing-masing”, serta menyiratkan bahwa narasi media dibentuk secara selektif. Sejumlah jurnalis yang hadir menilai pernyataan tersebut sebagai sinyal jelas bahwa Amorim menginginkan pengaruh yang jauh lebih besar dalam pengambilan keputusan klub.
Pandangan tersebut diperkuat oleh Fabrizio Romano, yang menafsirkan pernyataan Amorim sebagai tuntutan atas kendali lebih besar, bukan sekadar luapan emosi sesaat. James Ducker dari The Telegraph bahkan menyebut momen itu sebagai sebuah ultimatum: klub harus sepenuhnya mendukung Amorim atau memilih berpisah.
Manchester United memilih opsi kedua.
“Pelatih Kepala”, Bukan Manajer: Perbedaan yang Menjadi Kunci
Salah satu akar masalah utama adalah kesalahpahaman mengenai peran Amorim. Saat ditunjuk, Manchester United secara sengaja menggunakan jabatan “pelatih kepala”, istilah yang belum digunakan sejak kepergian Sir Alex Ferguson. Hal ini dimaksudkan untuk menegaskan struktur modern, di mana kebijakan transfer dan strategi jangka panjang berada di tangan manajemen, bukan pelatih.
Namun Amorim tampaknya merasa direkrut dengan kewenangan yang lebih luas, mirip dengan Erik ten Hag sebelumnya, yang memiliki hak veto atas transfer dan pengaruh besar dalam perencanaan skuad. Tingkat kekuasaan seperti itu tidak pernah diberikan kepada Amorim.
Bahkan dalam pernyataan resmi pemecatan, klub kembali menekankan istilah “pelatih kepala”, bukan “manajer”, sebuah detail kecil namun bermakna besar.
Kekecewaan Transfer dan Janji yang Tak Terpenuhi
Masalah rekrutmen semakin memperburuk hubungan kedua pihak. Pada bursa transfer musim panas, United menilai perlu mendatangkan penjaga gawang dan penyerang. Amorim disebut menginginkan Emiliano Martínez dan Viktor Gyökeres, tetapi klub justru berinvestasi pada pemain muda seperti Senne Lammens dan Benjamin Šeško.
Ketegangan berlanjut di bursa transfer Januari. United sempat memburu winger Bournemouth, Antoine Semenyo, namun sang pemain memilih Manchester City. Amorim berharap dana sekitar £65 juta yang telah disiapkan bisa dialihkan ke target lain, tetapi hal itu tidak terjadi.
Dengan banyaknya pemain cedera dan beberapa absen karena Piala Afrika, Amorim bahkan menyatakan di depan publik bahwa transfer Januari tidak dibahas sama sekali. Di balik layar, hubungan Amorim dengan Jason Wilcox disebut semakin tegang, sebagaimana dilaporkan Nathan Salt dan Reuters.
INEOS, selaku pengelola baru kebijakan sepak bola klub, tetap berpegang pada prinsip: tidak ada pembelian panik atau solusi jangka pendek, hanya target jangka panjang. Dari sudut pandang klub, Amorim telah mengetahui kebijakan ini sejak awal.
Kekakuan Taktik dan Masalah Skema 3-4-3
Selain urusan transfer, taktik menjadi sumber konflik besar. Manajemen United semakin mempertanyakan keteguhan Amorim mempertahankan skema 3-4-3, yang dianggap membuat tim rentan, khususnya di lini tengah. Jason Wilcox berharap Amorim menunjukkan fleksibilitas yang lebih besar sesuai dengan karakter skuad.
Beberapa sumber menyebut United terbuka untuk beralih ke formasi empat bek, bahkan menyusun rencana transfer berdasarkan fleksibilitas tersebut. Namun Amorim kerap kembali ke sistem favoritnya ketika tekanan meningkat, sesuatu yang membuat frustrasi petinggi klub dan pemain.
Eksperimen singkat dengan formasi 4-2-3-1 sempat terlihat saat melawan Bournemouth dan Newcastle, tetapi laga-laga penting berikutnya kembali menggunakan 3-4-3. Secara internal, hal ini dinilai sebagai tanda kurangnya adaptasi.
Menurut Sky Sports, masalah utamanya bukan pada formasi itu sendiri, melainkan keengganan Amorim menyesuaikan pendekatan berdasarkan lawan dan situasi.
Laga Melawan Leeds: Bentuk Protes Diam-Diam
Hasil imbang melawan Leeds menjadi simbol keretakan hubungan. Amorim hanya melakukan satu pergantian pemain meski bangku cadangan tipis dan kondisi fisik pemain terlihat menurun. Banyak pihak menilai ini sebagai bentuk protes diam-diam terhadap minimnya kedalaman skuad dan dukungan transfer.
Pada titik ini, sejumlah sumber menyebut keputusan pemecatan praktis sudah diambil.
Perspektif Amorim: Kepergian yang “Menyakitkan” dan Tak Diinginkan
Amorim belum memberikan pernyataan publik sejak pemecatannya. Namun Sky Sports melaporkan bahwa orang-orang terdekatnya menggambarkan keputusan ini sebagai sesuatu yang sangat menyakitkan. Terlepas dari pernyataan kerasnya di konferensi pers, Amorim sebenarnya tidak ingin pergi dan yakin United masih bisa finis di zona Liga Champions.
Ia mengakui hasil yang belum memuaskan — hanya tiga kemenangan dari 11 laga dan persentase kemenangan 38,1% — namun percaya bahwa dukungan tambahan akan mengubah arah musim, baik secara sportif maupun finansial.
Manajemen klub tidak sependapat dan menolak mengambil risiko lebih jauh.
Mengapa Keputusan Diambil Sebelum Laga Leeds
Sejumlah media, termasuk The Telegraph dan Daily Mail, menyebut bahwa keputusan krusial diambil sebelum pertandingan melawan Leeds. Dalam pertemuan yang kembali memanas soal taktik, petinggi United menyimpulkan bahwa kerja sama sudah tidak dapat dipertahankan.
INEOS menilai Amorim telah memberikan arah dan stabilitas awal, namun gagal membawa tim ke fase berikutnya: perkembangan, fleksibilitas, dan kohesi.
Biaya Finansial dan Reset Struktur Klub
Pemutusan kontrak Amorim diperkirakan menelan biaya lebih dari £10 juta, dengan total pengeluaran — termasuk kompensasi kepada Sporting CP — mencapai £25–30 juta.
Meski demikian, United siap menanggung kerugian tersebut sebagai bagian dari reset struktural. Ke depan, klub hanya akan menunjuk pelatih kepala, dengan kewenangan transfer dan strategi sepenuhnya berada di manajemen pusat. Era pelatih dengan hak veto telah berakhir.
Christopher Vivell diperkirakan akan memegang peran yang lebih besar dalam proses penunjukan pelatih baru dan pembentukan skuad.
Langkah Selanjutnya: Pelatih Interim dan Kandidat Jangka Panjang
Darren Fletcher telah mengambil alih sebagai pelatih interim dan diperkirakan akan kembali menggunakan formasi 4-3-3. Ia bisa bertahan hingga akhir musim, meski beberapa laporan menyebut kemungkinan penunjukan pelatih sementara lain.
Untuk posisi pelatih permanen, sejumlah nama mulai dikaitkan, termasuk Oliver Glasner, Roberto De Zerbi, Andoni Iraola, Enzo Maresca, dan Kieran McKenna. Spekulasi juga muncul soal Ole Gunnar Solskjær dan Gareth Southgate, meski belum ada indikasi kuat.
Untuk saat ini, Manchester United kembali memasuki fase transisi — mencari bukan hanya pelatih baru, tetapi juga stabilitas, identitas, dan keselarasan di level tertinggi klub.